Rabu, 08 Desember 2010

Travel Medicine:Persiapan Berwisata Bebas Penyakit

Mosquito-borne and other insect borne illnesses are common throughout the year. Malaria (including chloroquine-resistant strains) is prevalent throughout rural areas, but is uncommon in Jakarta. Dengue fever occurs throughout Indonesia, including in Bali and the major cities, and is particularly common during the rainy season. Australian Health authorities have observed an increase during 2010 in the number of dengue virus infections in returned travellers from Bali, Indonesia. (Departement of Foreign Affairs and Trade, Australia)



Ilustrasi di atas merupakan gambaran sebuah travel warning dari sebuah pemerintah di suatu negara kepada warga negaranya ketika mereka akan berpergian ke luar negeri. Meningkatnya kesadaran akan kesehatan tertuama di negara maju (developed country) dengan adanya travel warning memang menimbulkan banyak dampak negatif terutama pada tujuan negara berkembang. Menurunnya pendapatan utama pariwisata serta transportasi bisa dikatakan sebagai bukti konkret. Stigma terhadap negara yang terkena travel warning pun semakin membuat kesenjangan antara negara berkembang dan negara maju. Namun bila di ambil sisi positifnya, perihal di atas bisa dikatakan sebagai tantangan bagi suatu negara tujuan untuk meningkatkan sistem kesehatannya agar tercipta suatu lingkungan yang sehat.

Alasan utama sebuah negara mengeluarkan travel warning adalah untuk melindungi warga negaranya tereskpos dari berbagai macam resiko kesehatan pada negara tujuan yang notabene belum terlalu farmiliar oleh para pelancong tersebut. Dan ternyata resiko resiko tersebut bisa dicegah dengan adanya sebuah tindakan precaution yang didasarkan pada travel medicine.

Travel medicine adalah disiplin ilmu kedokteran yang memfokuskan perhatian pada hal yang berkaitan dengan kondisi kesehatan dalam kaitannya dengan suatu proses perjalanan (travelling) ini. Cabang ilmu ini mencakup berbagai disiplin ilmu termasuk epidemiologi, penyakit menular, kesehatan masyarakat, kedokteran tropis, fisiologi , mikrobiologi psikiatri, kedokteran kerja dan masih banyak lainnya.


Pada dasarnya dua hal khusus yang menjadi dasar dalam travel medicine adalah promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Setiap wisatawan diwajibkan mendapatkan informasi akan potensi resiko kesehatan di daerah tujuan dan mengerti bagaimana memproteksi diri sendir dari resiko bahaya tersebut. Kemudian diikuti dengan pemberian vaksin yang merupakan salah satu tindakan pencegahan yang biasa dilakukan.


Rekomendasi yang diberikan WHO berkaitan dengan travel medicine ini berupa :

  1. Konsultasi kesehatan sebelum bepergian: Konsultasi ini harus dilakukan setidaknya 4-8 minggu sebelum perjalanan dan dan lebih dianjurkan sebelumnya jika perjalanan jangka panjang atau bekerja di luar negeri. Hal-hal yang harus diperhatikan baik oleh dokter atau pun wisawatan ini antara lain transportasi, daerah tujuan, durasi, tujuan, dan kondisi kesehatan wisatawan saat ini.

  2. Penilaian resiko kesehatan yang berhubungan dengan perjalanan: Setelah melakukan konsultasi, pemberian vaksin atau obat-obat prophylaxis lainnya harus dilakukan menurut hasil penilaian dari konsultasi. Perlu diperhatikan dalam pemberian vaksin dan obat-obatan ini antara lain aspek kondisi kesehatan pasien,riwayat alergi, interaksi vaksin-vaksin dan vaksin-obat. Pemberian informasi tentang metode penularan atau penyebaran penyakit dan pencegahannya seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan dan minuman, penggunaan anti nyamuk (repellan) bisa dilakukan untuk penyakit yang tidak bisa dicegah dengan vaksin atau obat.

  3. Medical kit : Persediaan medis cukup harus dilakukan untuk memenuhi semua kebutuhan yang akan datang selama perjalanan.

  4. Perhatian khusus pada kelompok-kelompok tertentu : Mencakup persiapan-persiapan khusus seperti pada usia ekstrim (bayi dan lansia), ibu hamil, difabel dan wisatawan dengan riwayat penyakit kronis.

  5. Asuransi : Semua wisatawan sangat disarankan untuk melakukan perjalanan dengan asuransi perjalanan yang komprehensif. Hal ini memudahkan akan ketersediaannya pelayanan kesehatan didaerah tujuan yang sebagian besar dikelola oleh sektor swasta.

  6. Pemeriksaan kesehatan setelah pulang : Wisatawan disarankan untuk menjalani pemeriksaan medis saat mereka kembali jika mereka menderita a) penyakit kronis seperti jantung, diabetes, saluran pernapasan;b) munculnya gejala penyakit selama 1 minggu setelah pulang seperti demam, diare, muntah, jaundice, penyakit kulit;c) bepergian ke negara endemis malaria;d) bepergian ke negara berkembang selama lebih dari 3 bulan.



Travel medicine sudah menjadi kebutuhan yang mendesak dan penting saat ini. Perubahan pola penyakit global dan seiring dengan kemajuan teknolgi dan transportasi menuntut para dokter untuk selalu up-to date terutama dengan aspek epidemiologi di dunia, yang nantinya akan sangat berguna dalam merekomendasikan perjalanan sehat bagi para wisatawan. Sehingga kerja sama antara bidang penyedia kesehatan, agen biro perjalanan dan wisatawan itu sendiri sangat diperlukan.


Referensi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar